Jenis Vitamin yang Dibutuhkan selama Isolasi Mandiri

Selama melakukan isolasi mandiri, pasien Covid-19 perlu mendapatkan asupan makanan bernutrisi dan obat-obatan sesuai gejala untuk membantu pemulihan. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menuturkan pasien bergejala ringan biasanya diresepkan sejumlah obat, antara lain antivirus dan sesuai gejala. Bila ada demam, maka pasien diizinkan meminum parasetamol.

“Prinsipnya isolasi mandiri itu kita memberi kesempatan pada tubuh untuk membangun sistem kekebalan optimal demi melawan virus. Selain fokus melawan virus, ditambah booster dengan berbagai macam obat-obatan,” tuturnya.

Pastikan dosis dan cara minum obat yang tepat agar tidak memunculkan penyakit lain, misalnya sakit lambung. Selain obat, pasien juga perlu mendapatkan asupan vitamin C cukup. Ada beberapa pilihan, yang sifatnya non-asam tiga kali sehari satu tablet (500 mg) selama dua pekan atau vitamin C isap dua kali sehari satu tablet (500 mg) selama sebulan, atau multivitamin mengandung vitamin B, C, E dan zinc dua tablet sehari (satu bulan).

Vitamin lain yakni vitamin D satu kali sehari satu tablet 400-1000 IU, lalu obat herbal yang teregistrasi di BPOM, dan obat rutin penyakit sebelumnya, misalnya hipertensi, diabetes, atau asma, bila ada.

“Kalau bergejala ringan tanpa sesak biasanya diberikan Oseltamivir atau Favipiravir, juga Azithromycin. Tetapi, jangan menyetok karena obat-obatan ini harus diberikan di bawah pengawasan dokter,” kata Nadia, merekomendasikan pasien mengakses laman farmaplus.kemkes.go.id. untuk memeriksa ketersediaan obat.

Selama isoman, mereka bisa mengakses fasilitas telemedisin yang difasilitasi pemerintah melalui laman isoman.kemkes.go.id/periksa. Di sisi lain, para pejuang isoman juga perlu memperhatikan kesehatan mental. Ada berbagai cara yang bisa dilakukan, antara lain berkomunikasi dengan teman-teman, membaca buku dan berhati-hati terhadap hoaks.

“Kalau kita terkena COVID-19, tidak ada hoaks yang akan membantu. Lebih baik tanya pada sumber-sumber yang betul-betul terpercaya,” imbau Nadia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.