Mengapa Malam 1 Suro Punya Makna Penting Bagi Orang Jawa?

Pada malam 1 Suro, umumnya masyarakat Jawa melakukan laku tirakat, lek-lekan atau tidak tidur semalam suntuk, dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan beberapa orang memilih melakukan tirakat di tempat sakral seperti laut, gunung, pohon besar, ataupun makam keramat.

Peringatan malam satu Suro harus berjalan dengan khusuk. Ritual yang dilakukan secara individu dengan membersihkan diri secara lahir batin, melakukan introspeksi, dan mengucap syukur kepada Tuhan dengan meyakini Dia-lah yang membuat hidup dan menghidupi dunia dan seisinya.

Makna bulan Suro, bagi masyarakat Jawa dari petabudaya.belajar.kemdikbud.go.id sebagai pengingat. Pada Bulan Suro, mereka memiliki keyakinan untuk tetap eling dan waspada. Eling disini berarti ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti sebagai manusia harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.

Di berbagai daerah di Pulau Jawa memiliki tradisi dan karakteristik tersendiri dalam merayakan satu Suro. Seperti yang terjadi di Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Perayaan satu Suro biasanya dilakukan serempak pada malam pergantiannya di Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta. Meskipun dilakukan secara bersamaan namun keduanya memiliki karakteristik tersendiri.

Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Dalam Babad Solo Raden Mas Said disebutkan bahwa, leluhur kebo bule adalah hewan kesayangan Paku Buwono II. Ciri dari leluhur kebo bule disebutkan berwarna putih kemerahan, yang merupakan hadiah dari Kyai Hasan Beshari Tegalsari Ponorogo.

Pada saat kirab, di belakang Kebo Bule pada barisan berikutnya diikuti oleh para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.

Untuk di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, perayaan Satu Suro dilakukan dengan mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton yang diikuti oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya. Saat mengelilingi benteng keraton atau mubeng benteng, yang mengikuti ritual dilarang untuk berbicara, seperti orang yang sedang bertapa. Hingga muncul istilah mbisu mubeng benteng.

Yang pasti dalam setiap perayaan malam 1 Suro di setiap daerah selalu terdapat sesi doa bersama. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal marabahaya. Upacara perayaan satu Suro dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, introspeksi dengan yang dilakukan setahun sebelumnya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi tahun yang akan datang.

TATA FERLIANA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.